JAKARTA - Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) III bertema "Meneguhkan Peran Jurnalis Muslim di era Digital dan Medsos agar Mampu Menjawab Tantangan Zaman" di The Bridge Function Room Hotel Horizon, Jakarta pada Kamis, 4 Agustus 2022.
Parnimenghimbau para insan Dompet Dhuafa untuk selalu mengisi setiap hal dengan BOGOR -- "Banyak cara untuk memperingati hari nasional. Salah satunya dengan cara yang produktif, rekreatif, komprehensif, dan solutif," begitu ungkapan Parni Hadi, selaku inisiator, pendiri, sekaligus ketua pembina Dompet Dhuafa pada sambutannya di atas
Dompet Dhuafa genap berusia 29 tahun, pada Sabtu (2/7/2022). Gelaran milad ini pun akhirnya bisa dilakukan secara langsung di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta
DompetDhuafa hadir untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu dan siap mensejahterakan kehidupan mereka. Sehingga mereka bisa bangkit dan bisa be
Jakarta- Tepat hari ini, Sabtu (2/7/2022) Dompet Dhuafa genap berusia 29 tahun. Gelaran milad ini pun akhirnya bisa dilakukan secara langsung di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, setelah sebelumnya terhalang pandemi
arus listrik yang mengalir pada hambatan 9 ohm. - The Jakarta Post Jakarta, Indonesia ● Tue, July 3, 2018 2018-07-03 1125 1809 a7124a1e87885b91d244660f9ec00052 4 Inforial Free The reality of poverty taking hold of so many in this country has become a special concern for the Republika daily newspaper. Its coverage on the extent of poverty in Indonesia has had a profound impact on the nation's conscience. It inspired Parni Hadi, who was the paper's editor-in-chief at the time, to initiate and established a program called Dompet Dhuafa, designed to collect various forms of alms and raise funds for planned programs that empower the poor. In its very first year, Dompet Dhuafa collected a modest Rp 425,000 US$30 in donations. This marked the start of the program's long history in committing itself to empowering others. In 25 years of collaborations and partnerships, Dompet Dhuafa has grown in its fight against poverty and efforts to empower the poor. . ./. Since 1993, Dompet Dhuafa has helped more than 16 million people with the initiative's five pillars of empowerment. It has also helped the thousands of volunteers who have taken part in spreading the good will of Dompet Dhuafa. What started off as a program to eradicate loan sharks in collaboration with the Association of Indonesian Muslim Intellectuals ICMI in Bandung, West Java, is now continuing to empower others through the aforementioned pillars, namely, education, economy, social and cultural development, health and dakwah religious proselytizing. "Dompet Dhuafa is an Islamic philanthropy organization that is devoted to empowering the poor through compassionate socio-technopreneurship," said Parni Hadi, initiator, founder and patron of the Dompet Dhuafa Republika Foundation. Today, the desire to empower others continues at Dompet Dhuafa. People work together toward the organization's goal to synergize and keep alive the spirit of spreading kindness throughout society. This goal serves as a motivation for people at the organization to keep serving the poor and helping them grow and be empowered. Seeing poor people smile and become empowered is a reward unto itself. One example of a success story in this regard is of Ratmi, a lurik striped woven material craftworker in Tlingsing, Klaten, Central Java, who started as a Dompet Dhuafa beneficiary and now makes materials that are coveted by designers both locally and abroad. . ./. "Praise be to God, ever since we received assistance in capital, training and guidance, the quality of our lurik has improved. Thank you for your support and may the lurik of Tlingsing become more popular around the world," Ratmi said. All these efforts to empower the poor are framed within Dompet Dhuafa's motto of Care, Collaboration and Diversity throughout its 25 years of spreading kindness. With the blessings of the Almighty and with increasing public trust, much has been accomplished. Still, much more remains to be done in the next 25 years. Dompet Dhuafa continues to invite the public to show their willingness to empower others. A thank you goes to all the donors and the people of Indonesia for helping and supporting Dompet Dhuafa reach its goals. . ./.
JAKARTA — Tentu banyak yang langsung percaya ketika disebutkan bahwa BJ Habibie, memiliki kecerdasan intelektual IQ tertinggi di dunia. Dengan segala karya dan terobosannya, dengan mudah klaim itu diamini. Namun, wartawan senior Parni Hadi menceritakan bahwa Presiden ketiga Republik Indonesia tersebut, tidak pernah peduli dengan tingkat IQ-nya sendiri. “Saya pikir, beliau itu super cerdas atau genius. Tapi ketika diberitakan ia memiliki IQ tertinggi di dunia, Mas Rudy tampak tidak peduli. Orang bilang apa saja terserah, yang jelas saya tidak pernah diukur IQ saya untuk itu’,” kata Parni Hadi, di Jakarta, Rabu 11/9/2019, saat menceritakan kenangannya bersama BJ Habibie. Parni Hadi merupakan satu dari segelintir wartawan yang dekat dengan Habibie, putra terbaik bangsa yang tutup usia pada Rabu 11/9/2019 petang. Parni terbiasa menyapa Habibie dengan sebutan Mas Rudy. “Banyak sekali kenangan pribadi saya dengan almarhum Mas Rudy, sejak kenal pada 1977 sebagai wartawan Antara. Beliau yang menugasi saya memimpin Republika 1993, memimpin LKBN Antara 1998,” jelas wartawan yang bergabung di Kantor Berita ANTARA sejak 1973 itu. Bagi Parni Hadi, Habibie adalah Bapak Kebebasan Pers Indonesia, Bapak Reformasi dan Bapak Demokrasi. Tentu di samping peran intinya sebagai Bapak Teknologi Indonesia. “Pers, reformasi dan demokrasi adalah satu kesatuan,” kata Parni Hadi. Habibie dikenang sebagai sangat peduli dan berdedikasi tinggi untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia yang menguasai teknologi canggih. Tapi, kata Parni, Habibie lebih memilih orang yang berkarakter baik daripada orang pintar saja. Sebagai insinyur kelas wahid dengan sejumlah hak paten produk hi-tech, Habibie di mata Parni merupakan orang yang sangat rasional, tidak berbelit-belit, to the point, dan demokratis. Parni Hadi pun tak kuasa menahan dukanya saat menghadiri langsung pemakaman Mas Rudy. “Karena super cerdas, beliau juga ingin semuanya super cepat dan temperamennya tinggi. Tapi hatinya gampang tersentuh dengan soal kemanusiaan dan karya seni yang bermutu tinggi dan multidimensi,” tambahnya. Ia pun menimpali, “Kalau tidak setuju, beliau langsung bilang. Kesannya keras, galak, tapi gampang memaafkan alias mudah lupa kalau sebelumnya ia mengesankan marah”. Kelahiran Dompet Dhuafa, menurut Parni Hadi, tak terpisahkan atas hubungan dekat dirinya dengan Habibie. “Ia menunjuk saya sebagai Pemred Republika. Sekitar enam bulan setelah Republika terbit, muncul gagasan di otak saya untuk mendirikan Dompet Dhuafa,” katanya. Republika lahir karena Soeharto memberi izin kepada Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia ICMI yang dipimpin Habibie, untuk mendirikan koran. “Pada saat itu Mas Rudy tunjuk saya untuk pimpin Republika, dan dari rahim koran tersebut Dompet Dhuafa muncul, menasional, dan mengglobal untuk berbagi cinta kepada sesama,” tegasnya. Jadi, menurut Parni Hadi, Dompet Dhuafa berutang budi kepada banyak orang, terutama para donator sejak sebelum kelahirannya 2 juli 1993. Menjaga amanah donatur untuk berbagi cinta kepada sesama harus terus terjaga. Terlebih saat 2016 juga menerima anugerah Ramon Magsaysay di Manila, Filipina, karena dinilai berjasa untuk aksi kemanusiaan global. “Selamat jalan Mas Rudy, you are my mentor, senior brother and fasilitator, auf wiedersehen. Dein Parni,’’ tutup Parni Hadi. Dompet Dhuafa/Parni Hadi/IST
BerandaRumah Belajar ?Parni Hadi? Fasilitasi Pendidikan Demi Perubahan Generasi Penerus 1 November 2018, 1809 MADIUN, JAWA TIMUR — Dompet Dhuafa resmikan Rumah Belajar “Parni Hadi” yang beralamatkan di Desa Rejosari, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, pada Selasa 30/10/2018. Bertajuk Memfasilitasi Generasi Cerdas, Ikhlas, Bekerja Keras, dan Mandiri’, gelaran peresmian Rumah Belajar Parni Hadi’ diramaikan dengan aksi seni tari, seni suara, juga puisi. Ratusan pasang mata menyaksikan penampilan para Guru dan siswa-siswi dari Sekolah Dasar Kanung, Sidorejo, Rejosari, Pucangrejo, juga Sogaten, pagi itu. Gelaran tersebut merupakan peresmian sebuah program berbasis pendidikan sebagai wadah untuk pendidikan formal maupun non formal. Pembelajaran bukan hanya bentuk teoritis tapi juga praktek, termasuk seni tari dan suara agar tetap mengenal, menjaga, dan mencintai budaya bangsa. Adanya pendidikan bahasa Inggris dan Mandarin semacam les bimbingan belajar bimbel, juga ada di sana. “Pelatihan rutin akan diadakan setiap hari Sabtu. Insyaa Allah para Guru dan Kepala Sekolah dari sekolah-sekolah di sini siap bekerjasama. Karena kami percaya dan berharap pergerakan ini dapat membawa perubahan generasi penerus,” tutur Endang, Kepala Program Rumah Belajar Parni Hadi’. Ia mengakui bahwa lintas penggerak pendidikan akan siap bekerjasama. Melalui sub-sub program seperti pelatihan-pelatihan di luar kurikulum untuk pengembangan keterampilan. Turut menghadiri peresmian tersebut, Direktur Program Dompet Dhuafa, Sabeth Abilawa, yang juga memaparkan bahwa kedepan akan ada guliran pelatihan keterampilan rutin. “Selain memfasilitasi, melalui Rumah Belajar Parni Hadi’, Dompet Dhuafa berharap dapat mencetak generasi-generasi penerus yang berprestasi. Di Jawa Timur sendiri, lahir pahlawan-pahlawan bersejarah bangsa seperti Cokroaminoto, bahkan Soekarno,” tambah Sabeth. “Mari berprinsip bahwa setiap anak cerdas, tersimpan bakat dan memiliki kemampuan tersendiri yang berbeda-beda. Terima kasih Dompet Dhuafa, melalui Rumah Belajar ini mari kita pergunakan untuk menguak potensi kecerdasan tersebut,” tegas Soekatman, Wakil Camat Sawahan. Dompet Dhuafa/Dhika Prabowo
parni hadi dompet dhuafa